Kamis, 29 November 2012

Faktor penyebab nasabah wanprestasi


FAKTOR-FAKTOR YANG MENJADI PENYEBAB NASABAH TIDAK MELAKSANAKAN KEWAJIBANNYA PADA BANK

ANDRI YUSUF, SH., M.Kn
ABSTRAK
With amenity of bank growth and accompanied by amenity of credit ekspansi, hence amount of credit mount incisively (credit booming), and hereinafter the amount of credit have problem also become to increase. Credit appearance have problem is often started by various symptom and indication simply giving indicator (flag red) to banking, by banking kaena in its applying of channeling of credit can map factors becoming client cause do not execute its obligation at bank.

Dengan kemudahan perkembangan bank  dan diiringi kemudahan ekspansi kredit, maka jumlah kredit meningkat secara tajam (booming kredit), dan selanjutnya jumlah kredit bermasalah juga menjadi bertambah. Munculnya kredit bermasalah sering dimulai dengan berbagai indikasi dan gejala sekedar memberikan indikator  (red flag) bagi perbankan, oleh kaena perbankan dalam penerapannya penyaluran kredit dapat memetakan faktor-faktor yang menjadi penyebab nasabah tidak melaksanakan kewajibannya pada bank.

PENDAHULUAN
Dengan semakin berkembangnya suatu kegiatan perekonomian atas perkembangan suatu kegiatan usaha dari suatu perusahaan, maka akan dirasakan perlu adanya sumber-sumber untuk penyediaan dana guna membiayai kegiatan usaha yang semakin berkembang tersebut.  Hingga dengan demikian dana yang diperlukan untuk suatu kegiatan usaha dapatlah disebut juga sebagai faktor produksi yang sejajar dengan faktor-faktor produksi  lainnya seperti sumber bahan kerja, peralatan mesin-mesin kerja, kemampuan teknologi.
Perbankan merupakan salah satu sumber dana diantaranya dalam bentuk perkreditan bagi masyarakat perorangan atau adanya usaha untuk memenuhi kebutuhan komsumsinya atau meningkatkan produksinya.  Kebutuhan yang menyangkut kebutuhan produktif misalnya untuk meningkatkan dan memperluas kegiatan usahanya.  Kepentingan yang bersifat  komsumtif misalnya untuk membeli rumah sehingga masyarakat dapat memanfaatkan pendanaan dari bank yang dikenal dengan Kredit Kepemilikan Rumah yang disingkat KPR.
Perlu dipahami bahwa sumber dana perbankan yang dipinjamkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit tersebut bukan dana milik bank sendiri  karena modal perbankan yang sangat terbatas, tetapi merupakan dana-dana masyarakat yang disimpan pada bank tersebut, sehingga perbankan berusaha dan berlomba-lomba menarik dan mengumpulkan dana masyarakat agar bersedia menyimpan dananya pada bank tersebut. Dana masyarakat yang terkumpul dalam jumlah yang besar dengan jangka waktu cukup lama merupakan sumber utama bagi bank dalam menyalurkan kembali kepada masyarakat yang memerlukan dalam bentuk pinjaman/kredit. 
      Di negara-negara berkembang seperti Indonesia ini, kegiatan bank terutama dalam pemberian kredit merupakan salah satu kegiatan bank yang penting dan utama sehingga pendapatan dari kredit yang berupa bunga merupakan komponen pendapatan paling besar dibandingkan dengan pendapatan jasa-jasa diluar bunga kredit yang biasa disebut fee base income. 
Aspek hukum merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam setiap transaksi apapun termasuk pemberian kredit yang merupakan perbuatan hukum perjanjian sehingga setiap analisis dan pejabat pengelolaan  kredit harus dibekali dengan pengetahuan hukum  yang berkaitan dengan pemberian kredit tersebut.  Meskipun  aspek-aspek diluar hukum  telah memenuhi syarat  tetapi aspek hukumnya tidak memenuhi syarat atau tidak sah maka semua ikatan perjanjian dalam pemberian kredit dapat gugur sehingga menyulitkan bank untuk menarik kembali kredit yang telah diberikan.
Berdasarkan uraian diatas maka yang menjadi pertanyaan             faktor-faktor apakah yang menjadi penyebab nasabah tidak melaksanakan kewajibannya pada bank.
PEMBAHASAN DAN ANALISIS
Terjadinya kredit bermasalah jika dalam jumlah besar dapat menimbulkan petaka ekonomi. Sementara itu bagi petugas bank melakukan analisis terhadap kredit bermasalah berbeda dengan analisis kredit yang baru sama sekali. Ibarat membangun rumah, adalah lebih mudah ditanah kosong, daripada menata kembali rumah yang sudah tua. Ada tiga penyebab utama munculnya kredit bermasalah :
1.         Lemahnya aspek yuridis dalam memproses permintaan kredit daripada calon nasabah. Hal ini menyangkut pengikatan barang jaminan sebagai agunan kredit. Adanya cacat hukum karena kurang jelinya petugas bank dalam melakukan analisis.
2.         Lemahnya pengawasan sejak dini, yaitu sejak kredit diberi putusan oleh pejabat bank yang berwenang. Pada hal pengawasan adalah mutlak dilakukan, terutama disaat kredit sudah berada ditangan nasabah, maka monitoring harus dilaksanakan secara rutin.
3.         Lemahnya pembinaan nasabah oleh bank dilapangan. Hal ini guna mempersempit peluang debitur yang nakal melakukan itikad baiknya.
Penanganan kredit bermasalah lebih rumit dibandingkan menganalisis kredit baru. Karena menganalisis kredit bermasalah memerlukan :
  1. Ketajaman analisis, melebihi tajamnya analisis kredit biasa karena dalam pemohonan kredit mungkin petugas analisis dapat merekayasa data dan membuat analisis berdasarkan kasus yang sama dengan permohonan kredit lain. Sedangkan dalam kredit analisis bemasalah tidak dapat dilakukan secara “sablon” dan sama karena masalahnya lebih rumit dan hampir tidak ada yang sama.
2.    Kebaranian mental, melebihi keberanian menganalisis kredit biasa. Karena kredit biasa dapat dihadapi dengan mental yang normal, sedangkan kredit bermasalah harus ada semangat yang tinggi, disertai dedikasi yang tinggi.
3.    Keseriusan penanganan, karena kredit biasa dapat dilakukan lebih santai dan tenang. Sedangkan kredit bermasalah bagaikan membedah pasien yang berpenyakit.
4.    Semangat kerja yang tinggi, karena kredit biasa diperlukan semangat kerja yang normal pula. Tidaklah demikian kredit bermasalah, petugas bank tidak boleh lekas berputus asa, harus benar-benar tekun, dan percaya diri serta penuh semangat analisis yang benar-benar tepat.
Dengan kemudahan perkembangan bank dan diiringi kemudahan ekspansi kredit, maka jumlah kredit meningkat secara tajam (booming kredit), dan selanjutnya jumlah kredit bermasalah juga menjadi bertambah.
Akibat langsung terhadap perkreditan adalah terjadinya ekspansi kredit secara drastis. Rebutan atau pembajakan pegawai dan nasabah,sehingga terjadi kelemahan dalam analisis kredit atau lemahnya aspek pengamanan kredit.
Munculnya kredit bermasalah sering dimulai dengan berbagai indikasi dan gejala sekedar memberikan indikator (red flag) bagi kita. Karena itu kredit bermasalah dapat diibaratkan sebagai suatu penyakit yang perlu diwaspadai oleh dunia perbankan.  Petugas kredit harus mampu “membaca” situasi yang diberikan oleh gejala-gejala tersebut. Gejala ini merupakan tanda bahaya yang sangat berguna bagi bank dalam mengantisipasi munculnya kredit bermasalah, dan tanda bahaya ini merupakan upaya peringatan dini (early warning sign) akan situasi kredit. Karena kredit bermasalah itu sendiri tidak muncul secara mendadak dan seketika. Umumnya tumbuh secara bertahap,dengan memberikan beberapa gejala. Tanda-tanda tersebut seyogianya harus dapat diketahui oleh petugas kredit bank dengan melakukan deteksi secara dini. Ada beberapa sumber untuk melihat adanya gejala atau indikasi kredit bermasalah, yaitu :

1.   Perilaku Rekening (Account attitudes)
Berdasarkan perilaku rekening nasabah pada bank tempat ia memperoleh kredit dapat dibaca situasi yang memberikan indikasi bahwa kredit yang diperoleh nasabah ada gejala masalah:
   a.  Saldo rekening sering mengalami over draf
Bila terjadi overdraf adalah suatu hal yang dapat ditolerir dalam bisnis, namun jika sering terjadi perlu diwaspadai kemungkinan menurunnya kemampuan finansial nasabah.
  b.   Terjadi penurunan saldo secara mencolok
Turunnya saldo secara mencolok dapat mengancam likuiditas  perusahaan, selanjutnya dapat mengganggu kelancaran roda perusahaan. Bila nasabah dapat membuktikan bahwa menurunannya saldo secara mencolok menjadi aset lain, seperti: membeli persediaan yang diharapkan segera dapat diolah dan dijual, adalah tidak bermasalah. Tetapi jika menurunnya saldo untuk membiayai operasional secara rutin maka hal ini perlu diwaspadai.
  c.   Saldo giro rata-rata menurun
Menurunnya saldo giro rata-rata perlu diwaspadai sebagai indikasi menurunnya likuiditas perusahaan nasabah, karena gejala ini merupakan indikasi menurunnya kemampuan keuangan nasabah.
  d.   Pembayaran angsuran maupun bunga tersendat-sendat
Setiap nasabah yang lancar usahanya dan baik itikadnya, maka ia selalu ingat akan selalu ingat akan pembayaran bunga dan angsuran pinjaman. Adalah wajar jika terjadi sekali dua kali keterlambatan. Hanya saja keterlambatan kesibukan rutin nasabah. Tetapi jika terlambatnya sudah tidak wajar maka petugas bank harus waspada dan bertanya-tanya, apakah gerangan yang menyebabkan keterlambatan tersebut.
  e.   Sering mengajukan permintaan penundaan pembayaran        
Umumnya jika tidak ada gangguan kelancaran usaha, maka pembayaran  kepada  bank juga lancar. Namun kadang-kadang bank bisa mentolerir jika nasabah mohon dilakukan penundaan. Namun perlu juga diwaspadai, kemungkinan penundaan sebagai bentuk ketidak lancaran usahanya.
  f.   Terjadi penyimpangan penggunaan kredit
Setiap penggunaan kredit sebelum direalisir dicantumkan dengan jelas dalam akad kredit tujuan penggunaannya. Jika terjadi penyimpangan, perlu diwaspadai akan mungkin terjadinya kredit bermasalah.
  g.   Mengajukan perpanjangan kredit
Setiap terjadi perpanjangan bukan selalu berarti akan terjadi kredit bermasalah. Jika permohonan perpanjangan benar-benar demi kepentingan bisnis, seperti peningkatan omzet, melakukan kontrak bisnis dengan pihak ketiga, maka permohonan tersebut adalah wajar.  Tetapi jika alasan yang tidak jelas, maka perlu diwaspadai kemungkinan permohonan perpanjangan sebagai upaya menutupi ketidak mampuan nasabah mengembalikan kredit.
  h.   Terlibat cek kosong
Melakukan penarikan cek dengan nilai tidak mencukupi adalah suatu gejala yang tidak sehat, bahkan bisa ditafsirkan sebagai karakter yang tidak baik dari pemilik rekening. Kalau nasabah melakukan ini perlu diingatkan bahwa dia telah berbuat sesuatu yang dapat menghilangkan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.
  i.    Hubungan dengan bank semakin renggang
Nasabah dan bank sering diibatkan sebagai dua mitra yang saling membutuhkan bahkan ada yang mengibaratkan sebagai suami istri yang harus saling terbuka dan saling mendekati. Jika terjadi kerenggangan, perlu diwaspadai sebagai indikasi menurunnya kemampuan usaha nasabah.
  j.    Enggan dikunjungi
Jika nasabah berada dalam situasi yang baik dan sehat dalam segala hal, ia merasa bangga dan senang dikunjungi. Sebaliknya jika ia merasa enggan dikunjungi, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Bank harus mengejar permasalahan,ada apa dengan keengganannya  tersebut.
2.   Perilaku Nasabah (customer attitudes)
Berdasarkan perilaku nasabah dapat dibaca situasi yang memberikan indikasi bahwa kredit yang diperoleh nasabah ada gejala bermasalah:
        a.    Kesehatan nasabah memburuk
Menurunnya kesehatan fisik nasabah perlu diwaspadai. Karena dikhawatirkan menurun pula tingkat kegiatan kerja dan produktivitas perusahaan.
b.   Nasabah meninggal
Jika suatu usaha dipegang oleh seorang nasabah atau one man show, maka meninggalnya nasabah umumnya berakibat besar terhadap kelancaran usaha nasabah.
c.   Nasabah kalah judi
Kalah judi bisa memberikan akibat negatif dalam berbagai sendi kehidupan termasuk pada dunia usah nasabah.  Jika ada berita bahwa nasabah yang suka judi mengalami kekalahan,maka perlu diwaspadai kemungkinan menyerempet kepada penggunaan kredit bank.
d.   Terjadi sengketa rumah tangga
Jika sebuah bisnis dikelola oleh keluarga, maka masalah yang terjadi dalam rumah tangga berdampak besar terhadap perusahaan. Jika terjadi masalah rumah tangga nasabah, bank perlu waspada kemungkinan dampak ini kepada kelancaran kredit.
e.   Nasabah kawin lagi
Nasabah mau kawin lagi adalah urusan pribadi yang mungkin dicampuri oleh bank. Tetapi perlu diwaspadai, karena jika seorang dimabuk asmara, maka ia menjadi mata gelapakan permintaan sang buah hatinya.
f.    Telepon dari bank sering tidak dijawab
Jika lawan bicara kita enggan menjawab telepon, berarti ia enggan dihubungi. Jika seorang yang mempunyai kewajiban kepada bank, lalu enggan ditelepon bank, berarti ada apa- apanya dengan kewajibannya tersebut.
g.   Membeli aktiva tetap yang konsumtif
            Ada kebiasaan seseorang yang suka dengan kemewahan atau tidak mau ketinggalan mode. Ia selalu ingin mengganti peralatan rumah tangganya dengan hal yang baru, seperti sofa, kursi ukir, rumah baru, villa, sedan mutakhir.
h.   Nasabah mempunyai kegiatan tertentu
            Jika nasabah melakukan kegiatan istimewa dan luar biasa serta diperkirakan menggunakan dana yang cukup besar, perlu juga diwaspadai, seperti:
·         Dicalonkan sebagai lurah, serta aktif dalam kampanye pemilihan tersebut.
·         Aktif dalam kegiatan politik dan mengeluarkan biaya untuk kampanye golongannya.

3. Perilaku Kegiatan Bisnis ( Business activities attitudes )                      

Berdasarkan perilaku bisnis nasabah dapat dibaca situasi yang memberikan indikasi bahwa kredit yang diperoleh nasabah ada gejala bermasalah. 
  1. Hubungan dengan pengecer menurun
            Menurunnya hubungan antara perusahaan nasabah dengan pengecernya, perlu diwaspadai. Mungkin terdapat kekecewaan para pengecer mengenai diskon,pelayanan, tingkat harga, persyaratan yang memberatkan. Jika ini terjadi maka hal ini perlu dicemaskan, bahwa kemampuan nasabah dalam pemasaran akan menurun pula.
  1. Hubungan dengan pelanggan memburuk     
Pelanggan adalah pihak yang membuat perusahaan hidup. Jika hubungan dengan para pelanggan karena berbagai hal seperti, pelayanan buruk, harga mahal, mutu rendah, maka masa depan perusahaan bisa memburuk pula.

  1. Harga jual terlampau rendah
Rendahnya harga jual jika itu ditafsirkan sebagai murah, maka dapat diartikan sebagai hal yang positif. Tetapi murahnya harga jual karena tidak ada alternatif lain untuk menghadapi persaingan, maka tindakan ini dapat membahayakan kemampuan perusahan memperoleh keuntungan.
  1. Kehilangan hak sebagai distributor   
Jika nasabah adalah sebagai distributor, maka selagi ia tetap menjadi distributor berarti selama itu memperoleh kepercayaan dari produsernya. Jika ia tidak lagi menjadi distributor perlu dipertanyakan, dikhawatirkan ia akan kehilangan kepercayaan, dan akan kehilangan sumber penghasilannya.
  1. Kehilangan pemasok utama
Kehilangan pemasok utama dapat mengancam kelancaran usaha nasabah. Kehilangan ini dapat terjadi dengan berbagai alasan, antara lain karena hilangnya kepercayaan apemasok kepada nasabah.
  1. Kehilangan pelanggan utama
Kehilangan pembeli utama dapat memukul suatu perusahaan, sehingga dapat menurunkan secara drastis penjualannya.
  1. Mulai terlibat spekulasi bisnis
Jika suatu perusahaan mencoba usaha lain yang bersifat spekulatif, maka hal itu perlu diwaspadai sebagai gejala yang tidak sehat terhadap masa depan kredit. Sebagai contoh perusahaan real estate yang memperoleh kredit untuk membangun rumah,lalu menanamkan sebagian besar dananya pada pembelian tanah, dengan harapan bisa dijual nantinya dengan harga mahal. Tindakan ini mungkin dalam jangka panjang bisa menguntungkan nasabah, tetapi bagi bank akan mengganggu kelancaran kredit jangka pendek.
  1. Hubungan dengan bank semakin renggang
Nasabah dan bank sering diibatkan sebagai dua mitra yang saling membutuhkan,bahkan ada yang mengibaratkan sebagai suami istri yang harus saling terbuka dan saling mendekati. Jika terjadi kerenggangan, perlu diwaspadai sebagai indikasi menurunnya kemampuan usaha nasabah.
  1. Enggan dikunjungi
Jika nasabah berada dalam situasi yang baik dan sehat dalam segala hal, ia merasa bangga dan senang dikunjungi. Sebaliknya jika ia merasa enggan dikunjungi, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Bank harus mengejar permasalahan,ada apa dengan keengganannya  tersebut.
  1. Keterlibatan dengan usaha lain
Pengembangan usaha itu adalah wajar saja. Tetapi pengembangan usaha sebagai pelarian dari usaha semula,merupakan indikasi bahwa ia telah gagal dalam usaha pokok yang telah dibiayai oleh bank.
  1. Ada informasi negatif dari pihak luar
Selagi dari pelanggan nasabah merasa puas, maka bank boleh merasa lega akan kelancaran usaha nasabahnya. Tetapi jika terdapat informasi negatif dari pelanggan perlu diwaspadai,  karena hal itu bisa menjalar dan mengakibatkan nasabah kehilangan pelanggannya, yang berarti akan berada diambang kerugian.
  1. Ada klaim dari pihak ketiga
Adanya tuntutan pihak ketiga perlu diwaspadai sebagai indikasi bahwa kreditnya akan bermasalah, seperti :
·         Klaim pelanggan yang merasa telah dirugikan karena produknya telah mengecewakan dan merugikan nasabahnya.
·         Klaim relasi bisnis yang talah merasa dirugikan, sehingga hal itu bisa berbuntut panjang menjadi perkara dipengadilan.
  1. Ada pemogokan buruh
Pemogokan buruh jika dapat diatasi dengan baik,maka hal itu mungkin belum menimbulkan masalah,tetapi jika berlangsung lama dapat melumpuhkan perusahaan.  Atau mungkin diperoleh kata sepakat, misalnya diterimanya usul kenaikan upah dan gaji buruh,mungkin mengganggu cash flow yang sudah dirancang saat  pengajuan permohonan kredit.
  1. Nilai agunan menurun
Menurunnya nilai agunan mungkin diakibatkan oleh berbagai peristiwa  dan masalah :
·         Kurangnya perawatan terhadap barang agunan.
·         Sebagian barang agunan sengaja telah dirusak atau dijual kepada pihak lain.
  1. Terjadi sengketa diantara pemilik
Sengketa antara pemilik dapat mengarah kepada perpecahan perusahaan.Jika ini terjadi maka masa depan kredit bank pasti akan terganggu juga.
  1. Terjadi perselisihan di antara pengurus
Adanya perselisihan di antara para pengurus perusahaan atau para anggota direksi,perlu diwaspadai karena ini menyangkut kelancaran dan masa depan perusahan nasabah.
 f.   Perubahan mendadak dalam manajemen
Terjadinya perubahan manajemen secara mendadak, apalagi jika tidak diketahui bank perlu diamati. Jika perubahan itu menjurus kepada hal yang positif,  maka hal itu pasti pula memberikan akibat positif bagi kredit bank. Tetapi perubahan mendadak karena adanya pergeseran, dapat memberikan akibat berubahnya berbagai kebijakan peusahaan yang telah disepakati antara bank dan nasabah.
g.    Agunan hilang
Turunnya atau hilangnya sebagian agunan perlu diwaspadai sebagai indikasi kredit bermasalah. Karena nasabah yang jujur dan sukses tidak akan menemukan masalah tersebut.
h.   Terlalu optimis dengan laba
Nasabah yang terlalu optimis terhadap perolehan laba perlu diwaspadai, karena optimis yang berlebihan,nanti justu akan membuahkan kekecewaan dan kerugian bagi semua pihak.
         i.     Nasabah alih usaha pokok
Jika usaha nasabah beralih kepada jenis usaha lain, berarti terdapat ketidakmampuan nasabah mengelola jenis usaha yang telah dibiayai bank. Dan hal ini juga dapat dikategorikan sebagai penyimpangan penggunaan kredit.
j.    Mencari pinjaman baru
Jika nasabah berusaha mencari pinjaman baru, maka hal ini merupakan indikasi bahwa ia kekurangan dana atau likuiditas.
k.   Terjadi kejenuhan pasar
Terjadinya kejenuhan pasar dapat berakibat lesuhnya penjualan.Selanjutnya bermuara pada turunnya kemampuan nasabah dalam membayar kreditnya kepada bank.
l.     Biaya produksi naik
Naiknya biaya produksi perlu diwaspadai, karena bisa mengganggu tingkat keuntungan,yang selanjutnya menggaggu kemampuan nasabah dalam mengembalikan kredit kepada bank.
m.  Aktiva tetap digunakan untuk membiayai operasi perusahaan
Sering terjadi jika sebuah perusahan terganggu likuiditasnya,maka ia mncari pemecahan dengan mencairkan sebagian aktiva tetapnya. Hal ini tidak berarti mesti buruk, namun perlu dideteksi dan diwaspadai sebagai kemungkinan yang akan datang. Jika semata-mata untuk mengatasi kesulitan likuiditas,dan ternyata dengan pencairan tersebut debitur menemukan pemecahannya,maka berarti ia terlepas dari kesulitan. Tetapi jika itu berjalan terus-menerus,maka hal ini bisa memberikan tanda bahaya.

4.  Perilaku laporan keuangan (financial statement attitudes)
Berdasarkan perilaku keuangan nasabah dapat dibaca situasi yang memberikan indikasi bahwa kredit yang diperoleh nasabah adalah gejala bermasalah.


  1. Likuiditas menurun
Setiap perusahaan apa pun memerlukan likuiditas untuk membiayai operasional perusahaannya. Perusahaan yang lancar dan dikelola dengan baik, maka ia selalu memiliki kemampuan likuiditas. Jika terjadi kekurangan biaya operasional, maka berarti perusahaan tersebut kekurangan likuiditas. Dan ini juga akan mengancam kemampuannya membayar kewajibannya kepada bank.
  1. Perputaran piutang menurun    
Perputaran piutang atau receivable turn over merupakan unsur penting dalam menentukan dalam kelancaran usaha nasabah. Makin tinggi perputaran piutang berarti makin lancar usaha nasabah.  Jika terjadi penurunan perputaran berarti menurun pula kelancaran usaha nasabah.
  1. Rasio piutang lancar terhadap aset total meningkat
Jika perbandingan antara piutang lancar terhadap asset total meningkat, perlu   diwaspadai bahwa ada kemungkinan aktiva lancar semakin tertumpuk pada tagihan.
  1. Piutang meningkat
Naiknya jumlah piutang pada neraca, bisa sebagai indikasi tidak tertagihnya sebagian piutang. Tidak tertagihnya piutang ini dapat mengancam kelancaran likuiditas dan persediaan kas bagi perusahaan dalam memenuhi kewajibannya kepada pihak lain.
  1. Perputaran persediaan menurun
Perputaran persediaan atau inventory turn over  menggambarkan tingkat kelancaran usaha. Makin tinggi perputaran,berarti makin tinggi pula tingkat kelancaran penjualan barang . Jika terjadi penurunan perputaran,maka berarti menurun pula  kelancaran penjualan barang.
  1. Rasio persediaan terhadap aset total meningkat
Meningkatnya perbandingan persediaan terhadap asset total, perlu dipertanyakan. Jika meningkatnya persediaan diimbangi dengan meningkatnya asset total,berarti suatu perkembangan baik. Tetapi jika tidak dapat mengganggu cash ratio, yang selanjutnya mengganggu likuiditas perusahaan.
  1. Persediaan meningkat
Meningkatnya persediaan dapat merupakan indikasi bahwa barang tersebut belum atau tidak laku-laku. Sehingga angka persediaan tetap tinggi. Jika indikasi memang benar-benar terjadi,  maka ini berarti merugikan perusahaan. Dan perusahaan sulit memperoleh likuiditas.
  1. Rasio aktiva lancar terhadap aktiva total menurun
Terjadinya penurunan perbandingan aktiva lancar dengan total aktiva, dapat disebabkan karena aktiva lancarnya menurun nilainya,sedangkan aktiva tetapnya tidak berubah. Hal ini bisa terjadi karena debitur harus membayar kewajibannya kepada pihak ketiga diluar bank, mungkin berupa hutang dagang, sehingga uang tunai yang dimilikinya menurun. Hal ini dapat mengancam kemampuan nasabah membayar hutangnya kepada bank.
  1. Aktiva tetap menurun
Turunnya nilai aktiva tetap setelah revaluasi laporan keuangan,  kemungkinan terjadi karena nasabah terpaksa menjual atau mengganti sebagian atau seluruh aktiva tetapnya untuk memperoleh dana,   karena terjadinya kekurangan dana. 
  1. Biaya produksi naik tajam
Naiknya biaya produksi secara tajam  jika tidak diimbangi dengan kenaikan penjualan dapat mengancam tingkat keuntungan. Dengan kata lain perusahaan ini mungkin kalah efisien dibandingkan pesaing, yang selanjutnya mempengaruhi penjualan. 
  1. Penjualan meningkat namun laba menurun
Naiknya penjualan diiringi dengan menurunnya laba, mungkin disebabkan turunya harga produksi, sehingga volume penjualan menjadi naik, dan hal ini bisa mengakibatkan turunnya  kemampuan nasabah mengembalikan kredit kepada bank.

  1. Debt Equity Ratio meningkat
Menurunnya penjualan akan mengakibatkan pendapatan berkurang, sedangkan perusahaan harus tetap mengeluarkan biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost) untuk kelangsungan usahanya,sehingga nasabah berusaha memperoleh tambahan dana dengan jalan meminjam dari berbagai pihakuntuk membiayai usahanya. Dilain pihak yang tidak diimbangi dengan hasil penjualan minimal mencapai break even point,menyebabkan semakin menyusutnya modal kerja yang ada. Hal tersebut mengakibatkan naiknya perbandingan jumlah hutang dengan modal sendiri.
  1. Utang jangka panjang meningkat tajam
Penacarian utang  jangka panjang  umumnya untuk memperoleh investasi barang modal. Seperti mesin dan peralatan. Mungkin saja nasabah memperoleh bantuan kredit dari pihak lain berupa kredit investasi. Hal ini boleh saja,  hanya perlu diwaspadai jika kredit tidak disertai bantuan modal kerja,  maka suatu saat ia akan mengalami kekurangan likuiditas.
  1. Muncul utang dari kreditur lain
Berdasarkan laporan keuangan yang benar, maka dapat diketahui apakah nasabah diam-diam memperoleh kredit dari keditur lain. Jika hal ini terjadi perlu diwaspadai, karena mungkin nasabah mengalami kesulitan likuiditas, dan untuk mengatasi nasabah tersebut tidak berani minta tambahan pada bank, tetapi mencari jalan lain.
  1. Rasio keuntungan terhadap asset menurun
Jika terjadi penurunan rasio keuntungan terhadap asset, berarti ada gejala menurunnya kemampuan perusahaan memperoleh keuntungan.
  1. Laporan keuangan sering terambat
Terlambatnya laporan keuangan perlu diwaspadai sebagai indikasi tidak tertibnya pembukuan perusahaan nasabah. Ketidaktertiban  dapat diakibatkan berbagai sebab.

  1. Laporan keuangan tidak diaudit
Setiap pembukuan atau laporan keuangan seyogianya diaudit oleh akuntan. Jika senganja tidak diaudit dikawatirkan terjadinya rekayasa akan angka-angka dalam laporan tersebut.
  1. Persentase laba terhadap aktiva menurun
Menurunnya persentase laba bulan atau tahun sekarang dibandingkan bulan atau tahun lalu, merupakan indikasi bahwa terjadi penurunan kinerja perusahaan. Jika penurunan itu hanya sekali, mungkin masih diharapkan perkembangan bulan atau tahun depan. Jika terjadi penurunan laba dari bulan ke bulan terus-menerus, maka hal ini memberikan gejala yang berbahaya bagi perkembangan perusahaan tersebut.
  1. Laporan keuangan direkayasa
Ada kemungkinan nasabah yang merasa terpaksa harus membuat secara rutin,dan ia tidak mampu menyajikan neraca yang benar,  maka ia merekayasa laporan keuangan. Jika hal ini terjadi maka bank bisa  terkecoh, karena itu perlu diteliti kebenaran laporan tersebut dengan melakukan pengecekan on the spot.
  1. Harga penjualan terlalu rendah  dan berada dibawah titik impas
Terjadinya penjualan dengan harga yang terlalu rendah mungkin karena nasabah kalah bersaing dengan harga yanglebih tinggi. Jika hal ini terjadi perlu diwaspadai kemungkinan usaha nasabah akan mengalami kerugian.
  1. Masih belum ada pengkaderan dalam manajemen
Masalah manajemen menyangkut masalah manusia yang secara alami akan mengalami proses penuaan. Perlu diamati apakah nasabah yang sudah mendekati usia lanjut, telah mempersiapkan pengkaderan demi kesinambungan perusahaannya.
  1. Net worth menurun    
Menurunnya net worth berarti menurunnya kekayaan yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Perlu dipertanyakan mengapa terjadi penurunan.  Umumnya ini terjadi karena adanya kerugian.

PENUTUP
Kredit bermasalah yang timbul sebagai akibat dari kurangnya kemampuan debitur untuk melaksanakan kewajibannya membayar kembali kredit yang diterimanya. Kurangnya kemampuan debitur di sini termasuk kurang/ketidakmampuan debitiur dalam hal mengelola bisnisnya, baik disebabkan kelemahan manajemen maupun struktur permodalan.
Munculnya kredit bermasalah sering dimulai dengan berbagai indikasi dan gejala sekedar memberikan indikator (red flag) bagi bank. kredit bermasalah itu sendiri tidak muncul secara mendadak dan seketika. Umumnya tumbuh secara bertahap,dengan memberikan beberapa gejala. Tanda-tanda tersebut seyogianya harus dapat diketahui oleh petugas kredit bank dengan melakukan deteksi secara dini. ada 2 (dua) sumber untuk melihat adanya gejala atau indikasi kredit bermasalah, yaitu :
a.   Perilaku rekening
b.   Perilaku Nasabah
c.   Perilaku Kegiatan Bisnis
d.  Perilaku Laporan Keuangan
Saran
Pemberi sukses adalah bank yang mengelola kredit bermasalah pada suatu tingkat yang wajar yang tidak menimbulkan kerugian bagi bank yang bersangkutan. Munculnya kredit bermasalah sering dimulai dengan berbagai indikasi dan gejala sekedar memberikan indikator (red flag) bagi bank. Gejala ini merupakan tanda bahaya yang sangat berguna bagi bank dalam mengantisipasi munculnya kredit bermasalah, dan tanda bahaya ini merupakan upaya peringatan dini (early warning sign) akan situasi kredit. Pendeteksian indikasi kredit bermasalah dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui monitoring. 

DAFTAR PUSTAKA
Askin, Zainal, 1997, Pokok-Pokok Hukum Perbankan di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Badrulzaman, Meriam Darus, 1991, Perjanjian Kredit Bank, cetakan Keempat, Penerbit PT Citra Aditya Bakti, Bandung.
Djumhana, Muhammad, 2003, Hukum Perbankan Di Indonesia, Cetakan Keempat, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Fuady, Munir, 2002, Hukum Perkreditan Kontemporer, Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Hasanuddin, Rahman, 1998, Aspek-Aspek Hukum Pemberian Kredit Perbankan di Indonesia, PT. Citra Aditya Bhakti, Bandung.
Ibrahim, Johannes, 200, Cross Defauld dan Cross Collateral Sebagai Upaya Penyelesaian Kredit Bermasalah, PT. Refika Aditama, Bandung.
Simorangkir, O.P., 1989, Seluk Beluk Bank Komersil, Aksara Persada Indonesia, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar